Blog

  • Kembali Mengkristik

    Kembali Mengkristik

    Pertama kali saya mengenal kristik saat saya masih di bangku sekolah dasar. Saat itu saya main ke rumah sepupu saya di sebelah rumah dan melihat dia sedang belajar mengkristik. Iseng, saya melihat dia bermain-main dengan jarum, benang, dan kain strimin. Membentuk garis silang seperti huruf X, mengikuti pola yang sudah ditentukan. Terlihat seru, tetapi interaksi pertama saya dengan kristik hanya berhenti sampai di situ. 

    gambar dari sini

    Hingga bertahun-tahun kemudian, tepatnya setelah saya pindah ke Jakarta untuk bekerja, tiba-tiba saya teringat memori sepupu saya dengan kain kristiknya. Saya pun iseng membuka loka pasar dan memilih-milih kain kristik untuk dicoba. Sebagai pemula, saya memilih paket kain kristik yang sudah ada pola, benang, dan jarum. 
    Ternyata saya menikmati kristik. Buat saya, kristik jauh lebih mudah ketimbang knitting, crocheting, atau menyulam, yang ketiga-tiganya sampai hari ini belum ada kesampaian untuk saya belajar karena saya sudah keder duluan. Namun, seperti biasa, saya berhenti melanjutkan kristik setelah menyelesaikan satu pola. Lalu, mengkristik lagi. Lalu, berhenti lagi. 
    Belakangan, saya ingin kembali bermain dengan kristik. Mungkin saya ingin membangkitkan lagi hobi saya ini. Lebih baik saya sibuk mengkristik ketimbang saya stres buka-buka X atau doomscrolling tanpa henti membuka TikTok atau media sosial lain. 
    Dan inilah proyek kristik saya saat ini: 
    proyek kristik baru mulai
    Lucunya, saat saya mengkristik beberapa saat lalu, entah kenapa saya tiba-tiba ingin menelepon ibu saya. Mungkin alam bawah sadar saya teringat dulu sewaktu ibu saya masih hidup, setiap hari saya menelepon video beliau untuk memberitahu perkembangan kristik saya sudah sampai mana. Untung saja saya segera teringat bahwa ibu saya sudah tidak ada. Dan untungnya saya tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena tidak bisa menelepon ibu saya. 
    Karena saya percaya ibu saya pasti selalu tahu perkembangan terbaru proyek kristik saya. 
  • Tulisan Pertama di 2026

    Meskipun telat, tetapi izinkan saya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2026 untuk teman-teman semua. Semoga di tahun ini kita semua diberikan kesehatan, keberkahan, dan dimudahkan segala urusan. Amiiin… 

    Di tahun 2026, saya tidak membuat resolusi apapun. Karena, yah, saya sudah tahu pasti bakal gagal di minggu pertama. Ha, ha. Tapi, saya akan mencoba untuk menjadi manusia lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Terlalu abstrak dan terlalu luas ya? Biarkan saja lah. 

    Karena kalau mau dirinci ya bakal panjang banget. Saya ingin rajin olahraga, rajin meditasi, rajin menulis jurnal harian, rajin membaca buku, rajin menulis blog (di sini maupun di blog buku), rajin menabung, rajin belajar, rajin baca koran, tuh kan jadi banyak. 

    Jadi, demikian saja tulisan pendek dan tidak jelas ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

  • Secukupnya AI

    Pernah, dan sepertinya cukup sering, saya membaca keluhan orang-orang bahwa akal imitasi (AI) “mencuri” tulisan-tulisan mereka di blog atau di medium apa saja. Blog mereka yang biasanya ramai sekarang trafik pengunjungnya tidak seramai dulu. Mereka menyalahkan AI karena AI melatih diri mereka dengan mempelajari konten-konten yang ada di internet tanpa seizin si pemilik konten. AI mendapat cuan, sementara si pemilik konten tidak mendapatkan apa-apa. 
    Sejujurnya membaca keluhan seperti itu dan melihat penggunaan AI yang semakin masif dengan segala dampak negatifnya, sempat terbersit saya ingin berhenti menulis di internet. Ini juga alasan lain kenapa satu tahun lebih kemarin saya menghilang dari blog. Saya tidak mau berkontribusi membuat AI semakin pintar dan semakin kaya, sementara saya masih kere dan tidak mendapatkan kompensasi apapun dari AI. 

    Hanya saja setelah dipikir-pikir kembali, saya pasrah. Biarlah kalau AI semakin pintar dan semakin kaya dengan “belajar” dari konten-konten yang ada di internet, termasuk blog ini idih GR sekali saya. Jangan biarkan hal tersebut membuat semangat saya surut dalam menulis blog. Biarpun sekarang AI sudah canggih dan akan semakin canggih, biarpun AI memudahkan kita semua dan semakin banyak orang yang bergantung, tetapi saya masih percaya ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, yaitu rasa. AI tidak bisa menggantikan hubungan antarindividu yang tulus. AI tidak bisa memberikan empati dan compassion yang sungguh-sungguh. 
    Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog. Saya mencoba untuk tetap mempertahankan blog ini. Tujuannya? Selain untuk mencatat kenangan, juga untuk bertahan dan melawan godaan agar tidak bergantung dengan AI. Saya tidak mau tenggelam dalam AI sampai mengobrol sedemikian intens lalu sampai tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang rekaan. Saya tidak mau terjebak dalam penggunaan AI hingga membuat kemampuan berpikir kritis saya tumpul. Saya tidak mau berlarut-larut memakai AI sampai membuat saya lupa untuk menjalin koneksi dengan manusia nyata. Itulah kenapa saya kembali ke blog. Karena saya ingin kembali berinteraksi dengan teman-teman semua dan mencari teman baru. 
    Lantas, apakah saya antipati dengan AI? Tidak juga. Saya tetap menggunakan AI seperlunya dan secukupnya. Semoga kalianpun demikian. 
  • Tidak Ada Lagi Sindrom Malas Membaca?

    Saya baru saja menyelesaikan bacaan satu buku. Akhirnya. Buku terakhir yang saya baca ini adalah People We Meet on Vacation dari Emily Henry. Buku ini saya dapat setelah menang kuis dua atau tiga tahun lalu, tetapi baru saya baca sekarang. Dan yang membuat saya bangga adalah saya bisa menamatkannya dalam seminggu. Bagi seseorang yang sedang malas membaca, bisa tamat satu buku dalam satu minggu adalah sebuah kebanggaan. 
    Gambar dari Goodreads 

    Sebelum ini, buku yang saya baca adalah In Love: A Memoir of Love and Loss dari Amy Bloom. Buku itu selesai saya baca di akhir Agustus lalu. Bayangkan, hampir tiga bulan tidak ada lagi buku yang dibaca. Memang sudah separah itu sindrom malas membaca yang sedang saya alami. Huft. 
    Padahal awal tahun ini saya sudah membuat tantangan membaca di Goodreads sebanyak 50 buku. Saya terlalu percaya diri. Pertengahan tahun saya tidak bisa mengejar target. Seharusnya saya sudah baca minimal 25 buku, tetapi nyatanya tidak sampai 20 buku. Dengan kesibukan di kantor dan kemalasan yang terus mendera, saya menyerah. Saya mengubah target membaca jadi 24 buku. Itu lebih masuk akal untuk saya di tahun ini. 
    Dan dengan selesainya saya membaca People We Meet on Vacation maka saya berhasil menuntaskan target membaca saya tahun ini. Sekarang mari lanjutkan ke buku-buku berikutnya yang sudah lama dibeli, tetapi belum sempat dibaca bahkan sampul plastiknya pun belum sempat dirobek. Semoga setelah ini sudah tidak ada lagi sindrom malas membaca. 
    Oh, iya, berhubung membicarakan buku, sekalian saja saya promosi blog buku saya. Yuk, teman-teman sekalian pada mampir ke sana! Saya tunggu. 😁
  • Kembali Disiplin Menulis

    Sepanjang tahun ini saya tidak terlalu produktif sepertinya dalam banyak hal. Saya tidak banyak membaca buku dan, tentu saja, tidak banyak menulis. Untuk menulis jurnal harian saja sangat jarang saya lakukan. Satu buku jurnal harian yang tulisan pertamanya di bulan September 2024 sampai sekarang belum ada separuh isinya saya tulis. Meski begitu, saya tetap rajin membeli pernak-pernik alat tulis (stationery). 

    Blog resensi buku dan akun Letterboxd saya juga sudah lama tidak saya isi. Karena apa yang mau diisi kalau saya jarang baca dan jarang nonton, ditambah juga sedang malas menulis? 

    Entahlah. Saya juga tidak tahu kenapa tahun ini, atau mungkin sejak tahun lalu, saya malas menulis. Padahal kan saya suka–bahkan mungkin cinta–menulis. Hanya saja sepertinya rasa cinta itu tidak cukup untuk tetap bisa membuat saya rajin menulis. Tetap perlu adanya paksaan dari dalam diri untuk menulis. Jika saya tidak memaksa diri untuk menulis, maka tulisan ini tidak akan terbit dan blog ini tetap tidak akan ada kiriman terbaru.

    Selain karena memaksa diri, barangkali hal yang membuat saya kembali menulis adalah karena saya takut bodoh. Sejak 2008 saya menulis blog saya sudah merasakan manfaat menulis. Meskipun kemampuan menulis saya masih segini-segini saja, tetapi saya mendapatkan banyak sekali manfaat dari menulis.

    Menulis membuat otak saya aktif bekerja. Saya jadi berlatih untuk berpikir kritis, logis, dan runut karena menulis. Menulis juga memaksa saya untuk rajin riset. Karena tidak mungkin saya membuat tulisan yang asal-asalan, isinya kosong, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Rajin menulis juga membuat kemampuan menulis saya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Saya bisa merangkai kata-kata lebih baik dan berlatih mencari diksi yang tidak hanya sekadar tepat, melainkan juga soal rasa dalam memilih kata. Tentu saja menulis membuat saya mau tidak mau memaksa diri untuk belajar tata bahasa Indonesia meskipun secara swadidik. Dan ternyata kemampuan menulis sangat saya rasakan manfaatnya di kantor. 

    Meski saya bisa berdalih kalau setiap hari saya tetap menulis, seperti menulis pesan singkat, surel, membuat laporan, menganalisis data, tetapi tetap beda rasanya dengan menulis yang saya ketahui selama ini. Menulis yang biasa saya lakukan di blog ini adalah campuran kegiatan dari riset sederhana, berlatih menulis secara mandiri, dan menyunting. Ketiganya membuat otak saya bekerja dan itu menyenangkan buat saya.

    Hal yang sama juga saya rasakan saat saya menulis untuk tugas akhir studi saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi rasanya sangat menyenangkan saat saya riset dengan membaca jurnal, merangkumnya, dan membuat inti sari untuk memperkuat argumen. Lalu, proses menulis tugas akhirnya itu sendiri juga sama menyenangkannya. Intinya mungkin karena saya memang suka proses yang melibatkan kognitif saya aktif bekerja sih. Barangkali karena itulah saat saya vakum menulis, praktis otak saya tidak banyak digunakan, lalu saya takut saya akan menjadi bodoh dan kemampuan menulis saya menjadi berkarat. Ha, ha, ha. 

    Sebenarnya tidak ada rugi menulis setiap hari karena banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan. Meski begitu kenapa saya masih sulit untuk rajin menulis, ya? Padahal saya ingin bisa menulis setiap hari. Katanya kemampuan menulis itu sama seperti membangun otot. Jika ingin membentuk otot kita harus berlatih setiap hari, maka demikian juga dengan menulis. Akan tetapi, untuk saat ini rasanya masih sulit.

    Ya sudahlah. Mungkin untuk saat ini saya belum bisa menulis setiap hari, tetapi paling tidak dengan memiliki target menulis seminggu sekali di blog bisa membuat saya disiplin kembali untuk menulis. Berhubung blog ini memiliki tema beragam, maka saya akan menulis apapun yang menurut saya menarik. Mari memanfaatkan blog ini sesuai dengan slogannya, yaitu Ruang Kata, tempat belajar dan berbagi cerita

    Tidak hanya menulis di blog, melainkan saya juga ingin rajin menulis di jurnal pribadi. Saya ingin kembali tekun mencatat kejadian sehari-hari untuk saya kenang kembali di masa depan. Saya juga ingin bisa belajar untuk terbiasa menuliskan emosi yang saya rasakan. Tujuannya agar saya bisa mengenal emosi sendiri dan tidak langsung reaktif terhadap emosi yang dirasakan. Dengan rajin menulis jurnal harian, saya juga berharap saya bisa menjadi pribadi yang semakin matang emosinya. 

    Foto oleh Todoran Bogdan

    Jadi, kalian sudah menulis apa hari ini? 

  • Setelah Sekian Lama

    Akhirnya saya membuka dasbor (dashboard) Blogspot juga setelah lebih dari satu tahun blog ini saya telantarkan. Berkali-kali terbersit niat ingin menutup blog ini. Banyak alasannya. Salah satunya membaca ulang tulisan-tulisan lama membuat saya sedikit—mungkin banyak—menyesal karena saya sudah terlalu banyak membagikan cerita hidup saya di sini. Cerita-cerita yang sepertinya tidak perlu saya bagikan. Ada juga tulisan yang ketika saya baca ulang membuat saya merasa malu sendiri. “Saya pernah menulis seperti ini? Dan saya bagikan? Menggelikan sekali.”

    Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Ya sudahlah. Apa yang sudah saya terbitkan di internet tidak bisa saya hapus sepenuhnya. Biarkan saja tulisan-tulisan itu menjadi pembelajaran buat saya. Paling tidak, yang bisa saya lakukan adalah, saya ubah jadi draf untuk tulisan-tulisan yang saya rasa cukup untuk saya simpan sendiri. Sementara yang masih layak untuk dibagikan, saya biarkan untuk tetap tayang di blog ini. 

    Alasan berikutnya, saya tidak tahu saya mau menulis apa lagi di sini. Hidup saya masih tidak menarik. Masih membosankan seperti biasa. Saya juga tidak tahu apakah masih ada yang membaca blog ini. Ataukah blog ini masih bisa menjaring pembaca baru mengingat saya sendiri hampir sudah tidak pernah blogwalking dan berkomentar di blog orang-orang? Dan tentu saja pertanyaan pamungkasnya, apakah blog masih seksi di kalangan warganet dewasa ini? Bukankah orang-orang sekarang lebih menyukai kiriman (posting-an) video singkat, seperti TikTok, Reels Instagram, Shorts YouTube? Siapa yang masih betah membaca satu kiriman tulisan panjang di internet? 

    Namun, saya tidak memungkiri ada kalanya saya rindu menulis. Saya kangen menyusun kata demi kata menjadi sebuah tulisan untuk diterbitkan. Momen di mana membutuhkan waktu berjam-jam untuk menulis, meriset, dan menyunting tulisan dan ditemani alunan lagu dari beragam daftar putar (playlist) di Spotify, lalu berhenti sebentar untuk menyeduh teh, kopi instan, atau susu coklat adalah saat-saat yang menyenangkan buat saya dulu. Sekarang saya ingin merasakan momen yang menyenangkan itu kembali. 

    Meski begitu, entah kenapa, saat itu, tidak ada semangat untuk kembali ke blog ini. Mungkin saya sudah bosan. Mungkin saya butuh penyegaran. Mungkin saya butuh tempat baru untuk menulis, tetapi di mana? Saya melirik Medium dan melihat di sana sepertinya cukup ramai dan ada komunitasnya. Medium juga bisa menghasilkan uang jika kita mendaftar Medium Partner Program dan tulisan-tulisan kita di Medium ramai pengunjung, komentar, dan interaksi. Terdengar menarik. Saya pun tergoda. 

    Awal tahun ini saya daftar Medium Partner Program. Selain punya niat ingin punya akun yang bisa menghasilkan uang, saya juga ingin bisa membaca tulisan-tulisan yang dibatasi oleh penghalang berbayar (paywall). 

    Lalu, setelah mendaftar, apakah saya rajin membaca dan rajin menulis, serta berhasil menghasilkan uang di sana? Tentu saja tidak. Bulan demi bulan berlalu, saya hanya menerbitkan tidak lebih dari sembilan tulisan. Saya juga tidak rutin membaca Medium setiap harinya. Medium saya tetap sepi dan cuan yang didapat belum menyentuh angka US$1. Sungguh buang-buang uang. Ha, ha, ha. 

    Setelah sepuluh bulan menulis di sana, saya akhirnya mau mengakui bahwa Medium bukan untuk saya. Sampai saat ini saya masih bingung dengan penggunaan Medium. Dasbornya tidak ramah untuk saya yang gaptek ini. Saya sulit beranjak (move on) dari dasbor Blogspot. Bagaimana tidak, sudah belasan tahun saya menggunakan Blogspot. Saya sudah terlalu nyaman. Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke sini. Ke blog ini yang sudah ada sejak 2008. Tidak ada memulai baru dari nol karena saya sudah terlalu malas untuk itu. 

    Mari simpan semua memori hanya di satu tempat. Mari kembali rajin mencatat kenangan agar tidak hilang begitu saja dalam ingatan yang rapuh ini. Mari kembali menulis untuk memelihara kehidupan agar abadi. Selama blog ini masih ada, selama masih ada pembacanya, saya masih bisa menyimpan asa untuk menjadi kekal. 

  • Apa yang Orang Tua Ajarkan Kepada Anaknya?

    Barangkali teman-teman di sini belum tahu kalau saya mengidolakan Trevor Noah, seorang komika asal Afrika Selatan dan mantan pembawa acara The Daily Show. Buat saya, Trevor itu cerdas dan berwawasan luas. Pendapat itu saya buat setelah saya menyaksikan lawakan tunggalnya (stand-up comedy) yang ada di Netflix. Seringkali ide-ide dan pemikirannya di luar dugaan yang acapkali membuat saya bergumam, “Shoot, bisa saja nih orang berpikir seperti ini.” 
    Saya sudah membaca buku otobiografinya, yang pernah saya buat nukilannya di sini. Saya pun semakin mengidolakannya. Tulisannya mengalir lancar dan enak dibaca. Isi bukunya menceritakan bagaimana pengalaman hidupnya tumbuh dewasa di Afrika Selatan dengan rasisme, yang kalau Trevor bilang rasisme di sana merupakan rasisme nomor satu di dunia dan rasisme di Amerika itu tidak ada apa-apanya. Saya suka bagaimana dia menulis hidupnya yang penuh warnapahit, getir, sedih, bahagiatetapi dia membuatnya dengan nada humoris seolah itu semua hanyalah sebuah lawakan. Barangkali alasan utama saya menyukai dia adalah karena saya cocok dengan tema sosial yang sering menjadi topik dalam lawakan tunggalnya, juga bagaimana dia mengkritik. 
    Lalu, saya mendengar Trevor memiliki siniar (podcast) yang diberi nama What Now? with Trevor Noah. Tentu saja saya segera mengikuti siniarnya di Spotify. Karena berbagai macam alasan yang saya punya, saya baru bisa rutin mendengarkan siniarnya sekitar satu atau dua minggu terakhir ini. Saya putar siniarnya untuk menemani saya melakukan rutinitas di pagi hari sebelum berangkat ke kantor (termasuk memakai skincare dan berdandan), pada saat menunggu dan selama di KRL menuju kantor, atau pada saat saya mengkristik. Setelah rajin mendengarkan siniarnya, saya semakin mengidolakan Trevor. Saya menghargai bagaimana dia memperlakukan semua bintang tamunya di setiap episode, yaitu dengan penuh hormat, tanpa penghakiman, dan penuh empati. 

    (more…)

  • Selamat Tahun Baru 2024!

    Tidak terasa, ya, kita sudah di tahun baru lagi. Satu tahun memang sungguh waktu yang sangat cepat. Kalau ditanya bagaimana rekap hidup saya di tahun 2023 kemarin, wah bingung juga. Rasanya hidup saya tetap datar-datar saja. Yah, terkadang optimis dan pesimis juga, tetapi lebih sering pesimisnya, sih. Ada di satu periode kecemasan saya meningkat tajam dan ada di masa lainnya di mana saya tidak peduli apapun. I didn’t give a f*ck about almost everything. 

    Meski begitu tetap saja 2023 memberikan kenangan sangat baik dan tidak terlupakan. Apalagi kalau bukan pengalaman pertama kali nge-Istora. Yang paling menyenangkan dari pengalaman tersebut adalah saya dapat tiketnya gratis hadiah dari menang kuis di Twitter! Alhamdulillah, rejeki anak sholehah.
    Kenangan lainnya yang seru adalah saya bisa jalan-jalan ke Semarang. Akhirnya, saya ke Semarang juga, bo’, setelah sekian lama cuma bisa jadi wacana. Pengalaman jalan-jalan itu sudah saya tulis di sini, sini, dan sini.
    Terus, apalagi, ya? Ehm… Sepertinya yang paling tidak terlupakan itu saja, sih. Sisanya, ya, biasa saja. Datar. Flat. Ada yang ampas juga. Hadeeeh… Yah, namanya juga hidup lah, ya. Kadang asem, kadang asem banget. Jarang manisnya. Wkwkwk. 
    Cuma ya sudah. Meski di tahun kemarin hidup saya begitu-begitu saja, tidak ada salahnya di hari pertama tahun 2024 ini saya berdoa semoga kita semua dilimpahi keberkahan, kebahagiaan, cinta kasih, kesehatan, dan rejeki. Semoga apapun yang menjadi cita-cita dan harapan kita bisa terwujud di tahun ini. Amin! Amin! Amin!
    Satu lagi doa saya: semoga tahun ini saya bisa ke Banyuwangi, Tanjung Puting, dan Thailand. Ada amin? Dan barangkali ada sponsor juga? *dikeplak*

    Sekali lagi, selamat tahun baru 2024, teman-teman semuanya! 

  • Lima Buku Terbaik 2023 Versi Kimi

    Tidak terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun. Sebagai tulisan penutup akhir tahun, saya akan membahas buku terbaik menurut saya yang saya baca di sepanjang tahun 2023. Harusnya tulisan ini memang saya terbitkan di blog buku saya, tetapi di sana traffic-nya sepi. Jadinya ya saya terbitkan saja di sini. Dengan harapan akan lebih banyak yang membaca. Sesekali, ah, saya ingin menjadi penghamba traffic. Hihihi. 

    Cukup dengan preambulnya. Mari kita langsung saja ke pokok pembahasan. Halah. 
    Jadi, di tahun 2023 saya berhasil membaca 75 buku. Ini sesuai dengan target Goodreads reading challenge. Sekali lagi, Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan tantangan membaca di Goodreads. Dari ke-75 buku tersebut, tentu ada buku yang menurut saya lebih baik dari buku yang lain. Saya tidak akan membahas satu per satu buku apa saja yang sudah baca sepanjang tahun ini karena tulisan ini nantinya akan menjadi panjang sekali, plus tulisan ini nanti isinya tidak sesuai judul. Namun, jika teman-teman ada yang penasaran bukunya apa saja, teman-teman bisa lihat-lihat di utas X saya berikut ini:
    Berikut adalah lima buku terbaik di 2023 versi saya (secara acak):

    (more…)

  • [Song] Like a Stone

    Beberapa hari belakangan ini saya sedang senang-senangnya mendengarkan satu lagu. Saking senangnya saya putar terus-menerus di Spotify. On loop. Barangkali satu jam saya mendengarkan lagu ini tanpa henti sebelum saya beralih ke lagu lainnya. Lagu itu adalah Like a Stone dari Audioslave. 

    Like a Stone merupakan lagu single kedua dari album debut mereka, Audioslave, yang rilis pada tanggal 20 Januari 2003. Sejak pertama dengar dulu saya sudah langsung suka dengan lagu ini meski dulu saya tidak terlalu menghayati liriknya dan mencari tahu makna lagu ini. Saya jatuh hati dengan musiknya. 
    Nah, kemarin itu iseng saya ingin mendengarkan lagu ini. Iseng pula saya mencari tahu apa sebenarnya maknanya. Dan ketika saya menemukan penjelasannya di sini, sekarang rasanya tidak akan pernah sama lagi bagaimana saya mendengarkan Like a Stone

    (more…)